Aug 15, 2011

Si Komo, Kini Hilang Ditelan Modernisasi


13126929841967539362
Masa kanak-kanak adalah masa pembentukan suatu karakter dan kepribadian individu.  Bimbingan dari orang tua, lingkungan yang baik, belajar secara formal maupun non formal semua berdampak besar pada tumbuh kembang anak tersebut. 




Dari mulai anak tersebut di lahirkan, kemudian ia bisa melihat dunia hingga proses menuju  remaja. Setiap detail apa yang ia lihat, ia dengarkan selalu di anut bak itu sebuah petuah bagi diri anak tersebut.




Pada era seperti sekarang ini, group musik dari segala jenis aliran semua muncul di televisi.  Hampir 75 % lirik-lirik lagu tersebut bertemakan cinta dan asmara. Untuk musik sejenis ini, di negeri kita baik orang tua, remaja, kakek-nenek, hingga anak-anak kita yang masih di bawah umurpun sampai hafal menyayikan lagu-lagu cinta ini, apa lagi yang menyayikan lagu itu salah satu band yang paling di gandrungi. Tentu menjadi cerita tersendiri untuk setiap orang yang menyanyikannya.
Sekitar tahun 1997,1998, 1999  anak Indonesia  punya lagu idola sendiri.  Seperti Banjir lagi yang di populerkan Si Komo ( Kak Seto ), Libur Telah Tiba dinyanyikan oleh Tasya (  Ciptaan  A.T. Mahmud ). Ada nama-nama masyur lagi sang pencipta lagu anak-anak seperti Ibu Sud, Pak Kasur, bahkan ada warga Negara Amerika Serikat sampai-sampai menciptakan lagu untuk anak-anak versi Bahasa Indonesia  dia adalah  Dan Nicky.
Ada pernyataan sedih  dari Kak Seto disalah satu stasiun televisi swasta ” Betapa miris melihat bibir yang lembut nan cantik itu menyanyikan lagu dan mengucap kata cinta, seharusnya semua ini belum waktunya untuk anak-anak seusia mereka. Sangat-sangat di sayangkan “.
Namun kita semua tak bisa menyangkal. Inikah yang dinamakan modernisasi, sebuah kemajuan atau malah kemunduran. Peran besar orang tua adalah yang utama.  Memberikan pengertian, contoh dan prilaku yang baik terhadap anak.
Kita tidak usah heran jika kita pernah melihat berita di televisi, ada anak di bawah umur berani bertindak senonoh pada teman sebayanya. Ini semua di karenakan ilmu atau pendidikan yang seharusnya belum mampu di terima oleh anak tersebut, akan tetapi sudah menjadi makanan sehari-hari. Ibarat makan, jika  masih anak-anak jelas porsinya sedikit. Jika harus di suguhkan seperti menu orang tuanya. Tentu makanan tersebut tidak di habiskan. Malah-malah bisa di tendang jatuh ke lantai. Kurang lebih seperti itu.
Semoga bermanfaat…!

0 comments:

Post a Comment