Mar 22, 2011

Jatuh, Bangkit, dan Jatuh Lagi ( seri ke I )

Kala itu, aku duduk kelas 2 SMK. Sekolahku di jombang, jl. patimura. Tempatnya anak-anak mencari ilmu dengan harapan lulus bisa mendapat pekerjaan yang layak. Kurang lebih ada 35 km dari tanah kelahiranku. Karena jarak yang jauh dari rumah, untuk itu aku simpulkan untuk kost saja. Dari sinilah tersimpan sebuah kenangan, mungkin agak dramatis, dan sedikit romantis. Disisipi tawa, air mata, dan juga suka duka.

Awal bulan februari 2003, waktunya anak-anak di kejuruan PRAKERIN. Ada yang dari jombang ke surabaya, ada yang ke sidoarjo, bahkan sampai kejakarta. Sedangkan aku waktu itu milih tempat Prakerin di jombang saja sendiri. Depan kostku tepat anak kost juga, namun bukan kost putra melainkan kost putri. Teman-teman sekamar kostku sedang sibuknya ngerumpi, katanya ada banyak cewek dari nganjuk yang kost di depan rumah. Aku coba ingin  cari tau, bener apa ngga ?. Tiap pagi sebelum berangkat sekolah aku selalu mangkir dulu depan kost sambil godain cewek-cewek yang jalan. Disela-sela itu aku lihat ada yang pakai seragam beda. Aku sapa dia".....Hai cewek !....sambil jalan ia jawab ". hai cowok !. Eh, dalam hatiku " Beraani juga ini cewek, belum tau  disini ada macan sedang cari mangsa. Besoknya kegiatan seperti itu selalu aku lakukan karena dah jadi rutinitas sehari-hari. Sampai-sampai aku datang kesekolah selalu terlambat. Padahal jarak antara tempat kostku dengan sekolah cuma 50 m saja. jalan kaki paling-paling 5 menit saja.

Ada kebiasaan buruk dari teman-teman satu genk ma aku. Bila dentang bel sekolah tanda waktu pulang tiba. Kita mesti buru-buru cabut dari kelas, namun bukan untuk segera pulang. Melainkan nongkrong dulu bareng-bareng depan sekolah sambil menunggu jalanan sepi baru bergegas ke rumah masing-masing. Kejadian seperti ini sudah jadi kegiatan rutin sejak aku kelas satu hingga lulus. Banyak yang berpendapat katanya ini semua demi menjaga persaudaraan dan asas kekeluargaan. Hee he he he he, memang aneh tapi sudah jadi ritual mau bagaimana lagi.

Disela-sela gaduhnya suasana jalanan yang macet. secara tak sengaja aku jumpai sepupuku, dia sedang berjalan kelihatanya dia juga Prakerin di jombang. " Hai mas, aku sapa dia  ( namanya Teguh, dia sekolah di SMK mojoagung ).

Teguh " Hai Wan, apa kabar ?
Wan " Baik mas, ngapain pean disini ?
Teguh "  Aku prakerin di DEPDIKBUD.
Wan ". Ow, mari mampir ketempat kostku dulu.
Teguh " OK.
Buru-buru aku tinggal teman-temanku yang lagi asik nongkrong. Sambil berjalan pulang, aku berpamitan dengan teman-teman dan bergegas ke tempat kost dengan sepupuku. Belum masuk rumah baru berada di teras sepupuku sudah di panggil-panggil namanya sama anak kost  depan rumah. Dari pada ramai depan rumah, langsung aja sepupuku aku ajak masuk kedalam rumah. Aku tanya " Mang kenal dengan mereka ? . Teguh " Kenal, mereka anak nganjuk, merekaa satu tempat Prakerin ma aku di DEPDIKBUD. Aku jawab " Ow pantesan.

Satu minggu sudah berlalu. Akhirnya anak tempat kostku dah pada saling akrab dengan tetangga baru begitupun dengan aku. Ada salah satu dari mereka yang coba mendekatiku. Bukan karena dia suka sama aku, melainkan hanya ingin cari tau info tentang sepupuku bagaimana keseharianya dan orangnya bagaimana. Tibalah waktu malam minggu, sementara aku ngga balik kerumah karena aku rasa uang sakuku masih cukup untuk bertahan seminggu lagi. Begitupun dengan Deni, begitulah sapaanya anak yang kost depan rumah yang berasal dari nganjuk itu.Dari pada suntup dikamar, aku ajaklah Deni ngobrol diteras depan rumah sambil kupetikan tembang sebagaimana itu sudah jadi hobiku. Sambil berbincang, ngobrol sana-sini akhirnya di ajukan permintaan ke aku. Kalau besok hari minggu, Deni ngajak jalan kerumah sepupuku dengan alasan ditempat kost hari minggu kan juga ga ada kerjaan. Dengan lapang hati aku bersedia untuk itu toh aku juga ga ada jadwal lain.

Hari minggu sekitar pukul 09.00 aku antar Deni main ke rumah sepupuku. Sepanjang perjalanan kita ngobrol layaknya teman dekat. Dengan naik angkot dan ongkos kira-kira Rp. 3.000,-  waktu itu. Setelah sampai di gapura Desa kembang Sore kita turun & melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Setelah jalan kira-kira 15 menit sampailah aku di rumah sepupuku aku ketuk pintu, ulurkan salam. Rupanya ada anaknya sedang duduk diruang tamu dengan seorang gadis, aku dipersilahkan masuk & duduk bersebelahn tepat dengan sepupuku. Sedangkan Deni mengikutiku dan duduk berhapadapan dengan aku persis. tak lupa aku bersalaman & berkenalan dengan gadis di sebelah sepupuku begitupun dengan Deni. Rupanya, gadis itu mengaku kalau berpacaran dengan sepupuku. Aku lihat Deni senyum, padahal aku tahu dalam hatinya sebenrnya kecewa akan semua ini.Kita berempat mengobrol sana-sini. Belum ada tengah hari mengajak aku balik ketempat kost. Aku ikuti saja apa yang jadi kemauanya, mungkin Deni lagi kesal. Karena melihat sepupuku sudah punya gadis idaman lain.

Kembali kekost, menikmati hari tanpa letih. Esoknya kita kembali kerutinitas masing-masing. Pagi pergi sore pun datang, siang menghilang, malam pun menjelang. Secara tak sengaja aku temui Deni di jalan, aku ajak dia ngobrol sebentar. Aku ada rencana mau mengajak dia jalan entar malam dari pada di tempat kost bengong mending jalan keluar. Eh, rupanya dia mau jelas aku senang banget. Aku tunggu malam tiba, setelah tepat waktunya barulah aku jemput Deni tuk jalan-jalan. Pertama jelas cari warung makan, setelah kenyang barulah kita bernjak pergi cari tempat aman. Tempat yang tenang, nyaman di buat ngobrol, dan duduk berduaan layaknya sepasang kekasih. Seperti halnya kebanyakan anak muda yang lain, bila sudah merasa dekat, bila semua sudah merasa nyaman. Tiba-tiba aku iseng, nyatakan cinta ke Deni padahal terus terang, awal aku tiada niatan untuk itu semua. Oh, siapa sangka siapa menduga. Tanpa berfikir panjang Deni langsung bilang ia. Memang pucuk di cinta ulam pun tiba. Setelah mendapat respon baik dengan tak sungkan-sungkan aku gandeng saja tanganya Deni & tak lupa ucapkan terimakasih. Sementara jam tanganku sudah menunjukan waktu jam sembilan malam. Ini pertanda waktu untuk pulang, dengan sejuta kegirangan aku ajak dia pulang dan mengajaknya kembali jalan tuk besok lagi.

Ada sesekali dia aku ajak main kerumahku, aku perkenalkan dengan keluargaku. Bagusnya diterima dengan  baik juga oleh keluargaku. Nyaman rasanya, bila hari libur kadang aku pula sempatkan main ke rumahnya Deni. Keluarga Deni bagus juga, aku senang dengan mereka. Baik orang tuanya, saudaranya mereka sangat terbuka denga siapa saja. Hari-hari sangat indah aku rasakan. Pagi berangkat sekolah setelah pulang di tempat kost sudah ada yang menunggu. Semua ini lebih buatku bersemangat jalani hidup. Kadang kala, memang ada rasa penat yang mengganjal. Jika hubungan tak mesra karena perselisihan, namun inilah sebuah perjalanan. Tak mungkin semua bisa semulus seperti apa yang ada didalam angan-angan kita. Mau tidak mau kita harus tetap ikhlas menjalaninya. yang penting tetap Yakin akan sebuah keindahan menanti kita didepan.

Tiba saatnya masa Prakerin usai, perpisahan kini jadi sandungan perjalanan cintaku. Ia berpamitan ke aku, tak lupa akupun ikut mengantar kembali kerumahnya bersama teman-teman yang lain. Setelah kembali kejombang, ta terasa air mataku menetes. Inilah pertama kalinya aku menitikan air mata demi seorang perempuan.  Siapa mengira awal yang hanya  iseng kini saja, bisa bisanya terbias hati yang mendalam. Mengapa bisa terjadi ? akupun bingung untuk menjawabnya.

Kini kehidupan terasa pincang, ada rasa beda di setiap keseharianku. Tiap berdetaknya waktu aku jalani sendiri, tiada orang disisi lagi. Yang biasa menanti bila aku pulang sekolah, yang selalu hadir bila malam tiba, namun saat ini benar-benar ada yang hilang.Hubunganku dengan Deni tak berhenti dari sini.  Walau aku di jombang dia berada di nganjuk. Kita tetap saling menjaga komunikasi satu sama lain. Diwaktu aku masih pacaran dengan Deni, Hp belum meledak seperti saat ini. Hp yang besar dan panjang mirip kotak makanan itu harganya masih selangit. Otomatis aku hanya bisa berkomunikasi dan bertukar kabar melalui usrat menyurat. bila surat menyurat belum puas, kadang aku habiskan tiap malam di warnet hingga berjam-jam. telefon interlokal biaya ngga murah tuk angkatan anak kost sepertiku. Dengan sangat terpaksa akhirnya uang yang semula buat bayar kost & SPP ikut melayang.  Bila ada uang lebih, tak lupa aku juga langsung main kerumahnya. Entah 2/3 minggu sekali aku mesti datang kerumahnya. Habiskan hari minggu hingga pagi sampai sore aku di sana. Kadang datang sendiri, kadang pula di temani sohibku Tigor & Adi.

Ingat waktu Deni ulang tahun, aku datang kerumahnya & membawakan ia sebuah boneka barbie warna pink yang tinggi besar pakai ikat putih yang terselip dilehernya. Boneka ini aku beli dari uang yang selama ni ku kumpul di kolong almari pakaianku. Kelas 2 SMK pun berlalu, sempat terdengar kabar kalau Deni kecelakaan. Bahkan ayahnya Denipun rela menjemputku di tempat kost karena permintaan anaknya. Katanya deni saat ini sedang butuh banget kehadiranku. Datanglah aku ke RSUD Nganjuk dengan berboncengan motor ma ayah Deni. Tiga hari tiga aku menunggui & merawat Deni di rumah sakit. Datang orang menjenguk silih berganti, ada teman sekolah ataupun dari pihak keluarganya. Sempat aku di tanya oleh budhenya Deni "...Lho, ini siapa ?. Mungkin karena malu aku tak berani menjawab & langsung saja lari kekamar mandi. Aku berfikir apa yang harus aku katakan, aku bingung. Setelah coba berfikir bebrapa menit, aku siapkan mental baja untuk kembali ke kamar di mana Deni di rawat. Syukur Alhamdulillah, budhenya Deni tak bertanya lagi ke aku. Mungkin karena sudah dijelaskan oleh ibunya Deni. Setelah keadaan Deni agak membaik, subuh-subuh aku pamit pulang ke jombang. Karena sudah tiga hari aku tinggalkan sekolah.

Semua berjalan sesuai harapan, selang 2 minggu aku dengar kabar kalau Deni dah baikan & mulai kembali kesekolah lagi. Waktu terus berputar cerita terus berlanjut. Kelas 3 hampir usai, hingga kelulusan sekolah tiba hubunganku masih berjalan. Tetap surat menyurat & wartel jadi penyambung rasa. Setelah lulus, ada aku sesekali main kerumahnya. Ada hal yang mengganjal kali ini. Aku didudukan orang tua Deni. Aku di tawari untuk menikahi Deni. namun aku jawab secara terang-terangan aku belum bisa. Aku janji 2/3 tahun lagi, biar aku bekerja dulu membalas budi kepada orang tua. Sedangkan keadaanku sendiri masih compang camping, baru saja lulus sekolah, usiaku masih terlalu dini untuk menjalin sebuah hubungan rumah tangga.Aku terus terang belum sanggup untuk itu. Lama terjadi perdebatan panjang, akhirnya orang tua Deni bisa mengerti juga.

Setelah aku kembalipulang, aku coba berfikir. Awal aku berusaha melamar pekerjaan di beberapa tempat namun hasilnya tetap saja nihil. Hingga suatu saat aku main ke rumah temanku Tigor. Aku coba minta tolong & minta bantu tuk carikan aku pekerjaan. Karena aku masih nganggur sedangkan teman-teman yang lain udah pegang gawe sendiri-sendiri. Tinggal sisa aku dan Adi saja yang masih nganggur di rumah. Hanya selang 3 hari tiba-tiba Tigor datang kembali mengabariku. Ia bertamu kerumah dan mengajaku ke kenalanya yang katanya bisa memberiku pekerjaan.

Tigor " Men, kau mau kerja di madura ?
Wan " Ok, ga masalah. Apa lagi di madura, amerika saja kujalani.
Tigor " Bagus, mumpung masih muda. Ayo kita cari pengalaman sebanyak mungkin sobat.
Wan " Ok.

Dengan harapan selangit aku ngikut saja dengan yang di katakan Tigor. Diboncenglah aku sore itu ke jombang. dikenalkan aku dengan orang bandung, dimana ia sedang mngerjakan proyek di jombang. Rupanya bukan orang ini yang mencari karyawan, namun ada temanya lagi di madura yang membutuhkan. Setelah semua sepakat, Aku kembali pulang, bercerita kepada keluargaku dan meminta izin. Aku di izinkan, akhirnya hari sabtu aku berangkat ke madura dengan tujuan alamat yang sudah aku genggam. Setelah sampai aku lega bener, baru kali ini aku perjalanan jauh. Tapi untungnya aku juga ga nyasar juga. Aku di sambut baik dengan orang-orang baru yang nantinya jadi rekan kerjaku. Malam aku tertidur lelap, mungkin kecapean karena perjalanan yang melelahkan.

Esoknya aku langsung kerja seperti apa yang telah di perintahkan atasan. tak lupa aku beri kabar ke Deni kalau  aku sudah dapat pekerjaan. Satu minggu aku bekerja, aku diminta atasanku untuk membawa teman satu lagi. Aku ajaklah Adi kerja barengan ma aku di madura. Ia mau, & langsung saja selang 3 hari Adi langsul nyusul aku ke madura. Satu bulan berjalan, ada surat datang. Surat itu di tujukan ke aku, setelah aku baca rupanya itu dari Deni. Ia berpamitan, kalau dia mau bekerja di Batam.Aku senang sekali dengar berita ini. Karena aku fikir, kita bisa lupakan sejenak masalah pernikahan & fokus terhadap pekerjaan. Proyekku ga berlangsung lama, 3/4 bulan selesei. Setelah itu kita semua pada istirahat di rumah. Beginilah system kerja free land. ada pekerjaan kerja, kalau kosong ya nganggur di rumah. Berganti-ganti kota, berganti-ganti pula rekan kerja. Proyek baru, teman kerja juga baru namun atasan tetap sama. Setelah di madura 4 bulan, aku pindahdi lamongan 3 bulan. usai di lamongan aku pindah di jombang kotaku sendiri. Pekerjaan & cinta jalan bersama. Lewat surat menyurat hubungan terus kami rajut. bulan November 2006 aku dapat surat kembali dari Deni yang isinya " SAYANG, AKU MINTA MAAF. AKU TAK DAPAT MENERUSKAN HUBUNGAN KITA. KARENA JUJUR, AKU SEKARANG SUDAH PUNYA MOMONGAN SEORANG CEWEK DAN AKU JUGA SUDAH MENIKAH DENGAN ANAK LAMONGAN ". Dalam hatiku sontak tak percaya, aku kaget dengan ini semua. Mengapa bisa terjadi ? sedangkan aku tak tahu, kapan ia selingkuh, dan bahkan kapan ia menikah. Karena yang aku tau, setiap satu / dua bulan sekali kita msih berkiriman surat.

Dalam hati terus terang aku masih tak percaya. Aku putuskan untuk buktikan secara langsung dengan datang kerumah orang tuanya. Sesampainya disana, aku disambut hangat oleh ibunya Deni. Aku di persilahkann masuk dan dihidangkan sepiring makanan juga segelas kopi. Selang beberapa menit Deni keluar dari kamarnya dengan menggendong bayi mungil nan lucu. Aku lihat bayi itu perempuan, katanya itu adalah buah hatinya, bayi yang sempat ia ceritakan lewat ke aku  surat itu. Terus terang aku masih tak percaya, aku bertanya " mana suamimu ?. Deni jawab " ia kerja di surabaya. Ibunya Denipun perlahan memelukku erat & membisikan ditelingaku sebuah kata maaf atas kelakuan anaknya.

Bisa tidak bisa, mau tidak mau aku harus terima dengan lapang dada. Kali ini aku gagal dalam berperang. Perjuangan yang aku jalani kurang lebih 3 tahun kini berhambur berantakan. Kepercayaan yang aku berikan di balas dengan dusta. Berselingkuh, hamil di luar nikah jadi sandungan. Sabar dan sabar itu yang bisa aku lakukan. Semua sudah ada yang mengatur, semua sudah ada yang membuat rencana. Kita semua adalah dongeng atas kehendakNya

= = =
'" Memory's 16 juli '86.
Ngrajek, Nganjuk, Jatim

0 comments:

Post a Comment